RSS

Keadilan Tuhan Dalam Versi

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Para ulama Muslimin tidak sama pemahamannya terhadap IRADAH TUHAN (kemauan/kehendak Tuhan). Apakah kehendak Tuhan tersebut mutlak, tidak tunduk kepada norma-norma baik dan buruk, adil dan dzalim dan kebijaksanaan, ataukah tunduk kepada hal-hal itu semua.

Dengan perkataan lain, apakah perbuatan-perbuatan Tuhan dapat dipersamakan dengan perbuatan manusia?”

Aliran Asy’ariyyah mengatakan bahwa kehendak Tuhan mutlak, karena hanya Ia sendiri yang menguasai alam ini dan bisa berbuat sekehendakNya. Berhubung dengan itu , perbuatan-perbuatan Tuhan yang kelihatannya menyimpang dari ketentuan akal, tidak bisa dikatakan buruk atau dzalim, seperti memberi pahala orang yang jahat dan menyiksa orang baik/orang mi’min. dengan perkuatan lain, perbuatan Tuhan tidak bisa dipersamakan dengan manusia.

Aliran Mu’tazilah dan Maturidy sebaliknya mengatakan bahwa Perbuatan Tuhan dipersamakan dengan perbuatan manusia. Jadi ukuran baik dan buruk berlaku pada Tuhan. Dalam alam manusia kita mengetahui bahwa orang  yang berbuat atau orang yang menolong kejahatan adalah orang jahat. Karena itu kejahatan tidak mungkin ada pada perbuatan Tuhan, senagaimana yang dinyatakan Tuhan sendiri baca Ali imran 182 Anfal 51,Yunus 44 dan lain-lain)

Berhubung dengan hal-hal tersebut di atas, maka persoalan yang akan dibicarakan di sini ialah

1.      Kebijaksanaan Tuhan

2.      Baik dan buruk menurut pertimbangan akal, keburukan di dunia,qadla dan qadar.

 

Persoalan-persoalan tersebut telah dibicarakan oleh :

1.      Aliran Mu’tazilah,

2.      Aliran Asy’ariyyah

3.      Maturidy

 

 

PEMBAHASAN

 

Pengertian Keadilan Tuhan

A.    Mu’tazilah

Faham keadilan Tuhan banyak tergantung pada faham kebebasan manusia dan faham sebaliknya, yaitu kekuasaan Mutlak Tuhan.

Kaum Mu’tazilah  karena percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta keberadaan manusia, mempunyai tendensi untuk meninjau wujud ini dari sudut rasio dan kepentingan manusia. Memang dalam faham Mu’tazilah semua makhluk lainnya di Ciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia. Mereka selanjutnya berpendapat bahwa manusia yang berakal sempurna, kalau berbuat sesuatu, mesti mempunyai tujuan. Manusia yang demikian berbuat atau untuk kepentingannya sendiri ataupun untuk kepentingan orang lain. Tuhan juga mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatannya, tetapi karena Tuhan Maha Suci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, perbuatan-perbuatan Tuhan adalah untuk kepentingan maujud lain, selain Tuhan. Berlandaskan argument-argument ini kaum mu’tazilah berkenyakinan bahwa wujud ini diciptakan untuk manusia, sebagai makhluk tertinggi, dan oleh karena itu mereka mempunyai kecenderungan untuk melihat segala-galanya, dari sudut kepentingan manusia.

Berdasarkan atas tedensi mu’tazilah yang di jelaskan di atas soal keadilan mereka tinjau dari sudut pandangan manusia. Bagi mereka, sebagai di terangkan oleh Abdul Al-Jabar keadilan erat hubungannya dengan hak dan keadilan di artikan memberi seseorang akan haknya. Kata-kata “Tuhan Adil” mengandung arti bahwa segala perbuatnnya adalah baik. Bahwa ia tidak dapat berbuat yang buruk, dan bahwa ia tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibannya terhadap manusia. Oleh karena itu Tuhan tidak dapat bersifat zalim dalam memberi hukuman, tidak dapat menghukum analorang musyrik lantaran dosa orang tuanya, tidak dapat meletakkan beban yang tak dapat dipikul manusia. Dan mesti memberi upah kepada ornag yang patuh padanya dan memberi hukuman kepada orang yang mennetang perintahnya. Selanjutnya keadilan juga mengandung arti berbuat menurut semestinya serta seusuai kepentingan manusia, dan memberi upah atau hukuman kepada manusia sejajar dengancorak perbuatnnaya.menurut al-nazam dan pemuka-pemuka mu’tazilah lainnya tidak dapat dikatan bahwa tuhan berdanya untuk sifat zalim, berdsta, dan untuk tidak berbuat apa yang terbaik bagi manusia .

Jelaslah kiranya, bahwa paham keadilan bagi kaum Mu’tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang harus di hormati Tuhan. Keadalian bukanalah hanya berarti memberi upah yang berbuat baik dan memberi hukuman kepada yang berbuat salah.Faham’’ Tuhan Berkewajiban Membuat Apa Yang Terbaik Bagi Manusia” saja mengandung arti yang luas sekali, seperti tidak meberi beban yang terlalu berat bagi manusia, pengiriman rasul dan nabi-nabi, memberi manusia  daya untuk melaksanakan keawajiban-kewajibannya dan sebagainya.Semua ini merupakan keawajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia.Keadilan menghendaki supaya Tuhan melaksanakan kewajiban-kewajibannya itu demikian kaum mu’tazilah.

B.     Asy’ariyah

Kaum asyariyah karena percaya kepada mutlaknya Kekuasaan Tuhan mempunyai tendensi yang sebaliknya.mereka menolak faham Mu’tazilah bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatannya. Bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, tujuan dalam arti sebab yang mendorong tuhan untuk berbuat sesuatu. Betul mereka akui bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan menimbulkan kebaikan dan keuntungan bagi manusia dan bahwa Tuhan mengetahui kebaikan dan keuntungan itu, tetapi pengetahuan maupun kebaikan serta keuntungan-keuntungan itu, tidaklah menjadi pendorong bagi Tuhan untuk berbuat. Tuhan berbuat semata-mata karena kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan kepentingan manusia atau karena tujuan lain. Dengan demikian mereka mempunyai tedensi untuk meninjau wujud dari sudut Kekuasaan dan Kehendak Tuhan.

Kaum Asy’ariyah memberikan interpertasi yang berlainan sekali dengan interpretasi Mu’tazilah diatas. Sesuai dengan tedensi mereka untuk meninjau segala-segalanya dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, keadilan mereka artikan “menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya,” yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta mempergunakanya sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemilik. Dengan demikian keadilan Tuhan mengandung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhlukNya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya dalam kerajaan-Nya.ketidakadilan, sebaliknya berarti “menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu berkuasa mutlak terhadap hak milik orang”.

Oleh karena itu Tuhan dalam paham kaum Asy- Ariyyah berbuat apa saja yang dikendakinya, sungguh pun hal sedemikian itu, menurut padangan manusia adalah tidak adil. Asy-’Asyari sendiri berpendapat bahwa Tuhan tidaklah berbuat salah kalau memasukkan seluruh manusia kedalam surga dan tidaklah bersifat zalim jika ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. Perbuatan salah dan tidak adil adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum, perbuatan Tuhan tidak pernah bertentanagn dengan hukum. Dengan demikian Tuhan tidak bisa dikatakan bersifat tidak adil. Al-ghazali mengeluarkan pendapat yang sama. Ketidakadilan dapat timbul hanya jika seseorang melanggar hak orang lain jika seseorang harus berbuat sesuai dengan perintah dan kemudian melanggar perintah itu, perbuatan yang demikian tidak mungkin ada pada Tuhan.

Oleh karena itu Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak, dapat berbuat  apa saja yang di kehendakinya dengan mahkluknya Al-Asyari memang berpendapat bahwa Tuhan dapat menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat, dapat menjatuhkan hukuman bagi orang mukmin dan memasukkan orang kafir ke dalam surga. Sekiranya ini dilakukan Tuhan, Tuhan tidaklah berbuat salah. Tuhan tetap masih berbuat adil. Upah yang di berikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan tuhan. Tuhan tidak berkewajiban memberikan pahala. Sebagian kata al-ghazali Tuhan memberikan upah kepada manusia. Jika yang demikian yang dikendaki-Nya. Dan memberikan hukuman, jika itu pula yang dikehdaki-Nya. Sungguhpun demikian Tuhan tetap bersifat adil demikian pendapat kaum Asy’ariyah.

Jelaslah sudah kiranya bahwa paham Asy’ariyyah tentang keadilan bertentangan dengan paham yang di bawa kaum Mu’tazilah keadilan dalam paham Asyariyyah ialah keadilan raja absolute yang meberikan hukuman menurut kehedak mutlaknya, tidak terikat pada suatu kekuasaan, kecuali kekuasaannya sendiri. Keadilan paham Mu’tazilah adalah keadilan raja konstitusionil, yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum, sungguhpun hukum itu adalah buatannya sendiri. Ia memberikan hukuman sesuai dengan hukum dan bukan semaunya.

C.    Maturidiyyah

Dalam hal ini, kaum Maturidiyyah golongan Bukhara mempunyai sikap yang sama dengan kaum asy’ariyyah. Menurut Al-Bazdawi tidak ada tujuan yang mendorong tuhan untuk menciptakan kosmos ini. Tuhan berbuat sekendak  hati-nya. Keadaan tuhan bersifat bijaksana tidaklah mengandung arti bahwa di sebalik perbuatan-perbuatan tuhan terdapat hikmah-hikmah. Dengan lain kata Al-Bazdawi berpendapat bahwa alam tidak diciptaka tuhan untuk kepentingan manusia.

Kaum Maturidiyyah kaum Samarkhan karena menganut paham free will dan free act serta adanya batasan bagi kekuasaan mutlak tuhan, dalam hal ini mempunyai posisi yang lebih dekat kepada kaum Mu’tazilah daripada kaum Asy’ariyyah. Tetapi tedensi golongan ini untuk meninjau wujud dari sudut kepentingan manusia lebih kecil dari tedensi kaum Mu’tazilah. Hal itu mungkin disebabkan oleh karena kekuatan yang di berikan golongan Samarkhan kepada akal serta batasan yang mereka berikan kepada kekauasaan mutlak tuhan, lebih kecil yang di berikan kaum Mu’tazilah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Paham keadilan bagi kaum Mu’tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang harus di hormati Tuhan. Keadilan bukanalah hanya berarti memberi upah yang berbuat baik dan memberi hukuman kepada yang berbuat salah, seperti tidak meberi beban yang terlalu berat bagi manusia, pengiriman rasul dan nabi-nabi, memberi manusia  daya untuk melaksanakan keawajiban-kewajibannya dan sebagainya. Semua ini merupakan keawajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia.

Sedangkan paham Asy’ariyyah tentang keadilan bertentangan dengan paham yang di bawa kaum Mu’tazilah, keadilan dalam paham Asy-ariyyah ialah keadilan raja absolute yang meberikan hukuman menurut kehedak mutlak-Nya,  tidak terikat pada suatu kekuasaan, kecuali kekuasaan-Nya sendiri. Keadilan paham mu’tazilah adalah keadilan raja konstitusionil, yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum, sungguhpun hukum itu adalah buatannya sendiri. Ia memberikan hukuman sesuai dengan hukum dan bukan semau-Nya.

Kaum Maturidiyyah golongan Bukhara mengambil possisi yang lebih dekat dengan posisi Asy-Ariyyah dalam hubungan ini, sedangkan golongan Samarkhan mengambil posisi yang lebih dekat pada Mu’tazillah.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Februari 2014 in Tak Berkategori

 
Sampingan

Silabus

 

Sekolah/Madrasah       : SD

Kelas                           : IV (Empat)

Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam

Semester                      : I (Satu)

Standar Kompetensi   : Mengenal Ketentuan Shalat

 

  1. Kompetensi Dasar

Menyebutkan syarat sah dan syarat wajib shalat

  1. Materi Pokok/Pembahasan

Ketentuan Shalat

  1. Kegiatan Pembelajaran

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian syarat sah dan syarat wajib shalat, dan berlatih menjelaskan pengertiannya, serta menyebutkan syarat wajib dan syarat sah shalat secara klasikal, kelompok dan induvidu siswa melalui forum diskusi dan tanya jawab membedakan antara rukun, sunah, dan syarat sah shalat.

  1. Indicator
    1. Menyebut syarat wajib shalat dan syarat sah shalat
    2. Membedakan antara rukun, sunah, dan syarat sah shalat
    3. Penilaian
      1. Teknik                               : Tes tertulis
      2. Bentuk instrument            : Essay, jawaban singkat dan pilihan ganda
      3. Contoh instrument            :

-          Apakah yang dimaksud dengan syarat sah shalat ?

-          Sebutkan tiga syarat sah shalat ?

-          Yang harus dikerjakan dalam shalat dinamakan ..

  1. Syarat sah shalat   b. Sunah shalat   c. Rukun Shlat d. Pembatal Shalat
  2. Alokasi Waktu

3 X 35 Menit

  1. Sumber Belajar
    1. Gambar peraga keserasian gerakan dan bacaan shalat pada karton
    2. Tulisan syarat sah shalat pada karton
    3. Buku tata cara shalat
    4. Buku fiqih shalat
    5. Kaset
    6. Pengalam guru
    7. Buku paket

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

Sekolah/Madrasah                   : SD

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Agama Islam

Kelas/Semester                        : IV/I

Standar Kompetensi               : 1.1 Mengenal ketentuan shalat

Kompetensi Dasar                   : 1.3 Menyebut Syarat sah shalat

Alokasi Waktu                        : 3 X 35 Menit

Tujuan Pembelajaran :

  1. Siswa dapat menjelaskan pengertian syarat sah shalat
  2. Siswa dapat menyebutkan syarat wajib shalat dan syarat sah shalat
  3. Siswa dapat membedakan syarat wajib shalat dan syarat sah shalat
  4. Siswa dapat membedakan anatara antara rukun, sunah dan syarat sah shalat

 

  1. Karakteristik siswa yang diharapkan :

dapat dipercaya (respect), tekun (diligence), tanggung jawab (responbility), berani (courage), ketulusan (honesty), integritas (integrity), peduli (caring), jujur (fairnes), dan religi (religius).

  1. Materi Pembelajaran   : Syarat sah shalat
  2. Metode Pembelajaran :
    1. Siwa mengadakan diskusi dengan teman-temannya membahas syarat sah shalat dan mengkaji perbedaannya dengan syarat wajib shalat
    2. Siswa menyebutkan syarat wajib salat dan syarat sah shalat
    3. Siswa mengkaji perbedaan antara rukun, sunah, dan syarat sah shalat
    4. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
      1. Kegitan pendahuluan

Apersepsi dan motivasi

  • Guru mengulas kembali materi sebelumnya secara ringkas
  • Mengkorelasikan materi sebelumnya dengan bahan ajar yang disampaikan
  • Memberikan pangantar dari bahan ajar yang akan disampaiakan
  1. Kegiatan inti
    1. Ekplorasi

Dalam kegiatan ekplorasi, guru

  • Siswa mendengarakan dan mengamati uraian guru tentang tentang bahan ajar yang disampaikan
  • Siswa mengemukakan pendapatnya tentang pengertian syarat sah sholat
  1. Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi guru :

  • Siswa menyebutkan syarat wajib shalat dan syarat sah shalat secara kilasik, kelompok, dan individu.
  • Siswa nmengemukakan pendapatnya tentang perbedaan anatara rukun, sunah, dan syarat sah shalat melalui perwakilan kelompok masing-masing
  1. Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
  • Guru bersama siswa bertabya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan pengutan dan penyimpulan.
  1. Kegiatan penutup

Dalam kegiatan penutup, guru

  • Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa seputar pemahaman mereka tentang syarat sah dan syarat wajib shalat
  • Guru membacakan kesimpulan saingkat materi yang disampaikan
  1. Alat/sumber belajar :
    1. Gambar peraga keserasian anatara gerakan dan bacaan shalat pada karton
    2. Buku tata cara shalat
    3. Buku pendidikan agama islam
    4. Al-Qur’an
    5. Kasit/VCD
    6. Pengalaman guru
    7. Penilaian

Indicator Pencapaian

Teknik Penilaian

Bentuk Instrumen

Intrumen soal

  • Menjelaskan pengertian sunah shalat
  • Menyebutkan syarat wajib shalat dan syarat sah shalat
  • Membedakan anatara rukun, sunah, syarat sah shalat

Tes tulis

Tes tulis

Tes tulis

Essay

Jawaban singkat

Pilihan ganda

 

  1. Apakah yang dimaksud dengan syarat sah shalat ?
  2. Sebutkan tiga syarat sah shalat ?
  3. Yang harus dikerjakan dalam shalat dinamakan …
    1. Syarat sah shalat
    2. Sunah shalat
    3. Rukunshalat
    4. Prmbatal shalat

 

  1. Produk (Hasil diskusi)

No

Aspek

Criteria

Skor

1

Konsep

  • Semua benar
  • Sebagian besar benar
  • Sebagian kecil benar
  • Semua salah

4

3

2

1

 

  1. Performansi

No

Aspek

Kritertia

Skor

1

Kerjasama

  • Bekerjasama
  • Kadang-kadang kerjasama
  • Tidak bekerjasam

4

2

1

2

Partisipasi

  • Aktif berpartisipasi
  • Kadang-kadang aktif
  • Tidak aktif

4

2

1

 

Lembar Siswa

No

Nama Siswa

kerjasama

partisipasi

produk

Jumlah skor

Nilai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan

Nilai = (jumlah skor maksimal) X 10

  • Untuk siswa yang belum memenuhi syarat nilai sesuai KKM maka diakan remedial.

 

Kebumen,     ,      , 2013

Mengetahui

Kepala Sekolah

 

 

(……………………….)

NIP…………………

 

Guru Mapel

 

 

(………………………..)

NIP ………………….

 

Silabus

Sekolah/Madrasah                   : SD

Kelas                                       : IV (Empat)

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Agama Islam

Semester                                  : I (Satu)

Standar Kompetensi               : Mengenal Ketentuan Shalat

 

  1. Kompetensi Dasar

Menampilkan perilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat-sifat Allah Swt

  1. Materi Pokok/Pembahasan

Iman Kepada Allah

  1. Kegiata Pembelajaran

Siswa berdiskusi bersama teman-temannya untuk menemukan perilaku yang menverminkan keyakinan akan sifat-sifat Allah sehingga dapat diterapakan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Indicator
    1. Menyerahakan diri kepada Allah dengan cara bertawakkal
    2. Belajar giat untuk mendapatkan nikamat dan karunia Allah
    3. Berbuat baik terhadap sesama dan tidak berbuat kerusakan dimika bumi
    4. Penilaian
      1. Teknik                               : tes tertulis, portofolio
      2. Bentuk instrument            : pilihan ganda, uraian, karya tulis
      3. Contoh instrument            :

-          Menyerahkan diri kepada Allah setelah berusaha dengan sungguh-sungguh disebut …

  1. Sabar         b. ikhtiar          c. tawakkal      d. qana’ah

-          Jelaskan bahwa belajar dengan giat akan mendapatkan nikmat dan karunia Allah sebutkan bukti-bukti konkretnya!

-          Buatlah karya tulis dengtan topik bahwa berbuat baik dan tidak berbuat kerusakan dimuka bumi akan membawa kedamaian dan kesejahteraan!

  1. Alokasi Waktu

2 X 40 Menit

  1. Sumber Belajar
    1. Buku pendidikan agama islam
    2. Lks

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

Sekolah/Madrasah                   : SMP

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Agama Islam

Kelas/Semester                        : VII/I

Standar Kompetensi               : 2. Meningkatkan keimanan kepada Allah Swt melalui pemahaman sifat-sifatnya

Kompetensi Dasar                   : 2.4. Menampilkan perilaku sebagai cermin kayakianan akan sifat-sifat Allah Swt

Alokasi Waktu                        : 2 X 40 Menit

 

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat membedakan perilaku orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman, menjelaskan gambaran perilaku orang yang beriman dan menunjukan perilaku yang mencerminkan diri sebagai orang yang beriman kepada Allah Swt.

  1. Karakter siswa yang diharapkan :

Dapat dipertcaya (trustworthhines), rasa hormat dan perhatian (respect), tekun (diligience), tanggungjawab (responbility), berani (courage), ketulusan (honesty), integritas (integrity), peduli (caring), jujur (fairness)

  1. Materi pembelajaran
    1. Perbedaan perilaku orang yang beriman dengan yang tidak beriman
    2. Perilaku orang yang beriman kepada Allah Swt.
    3. Metode pembelajaran
      1. Ceramah
      2. Tanya jawab
      3. Diskusi
      4. CTL
      5. Langkah-langkah kegitan pembelajaran
        1. Kegitan pendahuluan
          1. Apresiasi dan motivasi
  • Guru mengulas kembali materi sebelumnya secara ringkas
  • Mengkorelasi materi sebelumnya dengan bahan ajar yang akan disampaikan
  • Memberikan bahan ajar yanga akan disampaikan
  • Guru membagi-bagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (small group?
  1. Kegitan inti
    1. Eksplorasi

Dalam kegitan eksplorasi, guru

  • Guru memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah kegitan pengamatan terhadap alam atau lingkungan sekitar yangb menunjukan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
  • Siswa mencari dan menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT melalui pengamatan terhadap lingkungan sekitar secara langsung atau melalui tayangan VCD
  1. Elaborasi

Dalam kegitan elaborasi, guru

  • Siswa mencari, menemukan dan mengklasifikasikan keajaiban alam yang ditemukan dan dikaitkan dengan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT
  • Siswa mendiskripsikan kesan-kesannya.
  1. Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru

  • Siswa melaporkan kegitan secara tertulis

 

  1. Kegiatan penutup
  • Bersama-sama dengan peserta didik membauat rangkuman kesimpulan pelajaran
  • Melakukan penilaan dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram
  • Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran
  • Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, prigram pengayaan, layanana konseling, dan/atau memberikan tugas baik individual maupun kelompok sesuaia dengan hasil peserta didik.
  • Menyamampaikan rencana pelajaran pada pertemuan berikutnya.
  1. Sumber Belajar
  • Buku ayo belajar agama islam smp
  • Lks MGMP PAI
  • VCD keajiban penciptaan Allah SWT
  • Lingkungan alam sekitar
  • Pengalaman guru
  1. Penilaian

Indikator pencapaian

Teknik penilaian

Bentuk instrumen

Instrument soal

  1. Menyerahkan diri kepada Allah dengan cara bertawakkal
  2. Belajar giat untuk mendapatkan nikmat dan karunia Allah SWT
  3. Berbuat baik terhadap sesama dan tidak berbuat kerusakan dimyuka bumi

Tes tetulis

Tes uraian

  1. Bagaiaman cara untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan cara bertawakkal?
  2. Bagaimana cara untuk mendapatkan nikmat dan karunia Allah SWT?
  3. Jelaskanlah cara berbuat baik terhadap sesamanya dan tidak bebuat kerusakan dimuka bumi

 

  1. Produk

No

Aspek

Kriteria

Skor

1

konsep

ü  Smua benar

ü  Sebagian besar benar

ü  Sebagian kecil benar

ü  Semua salah

ü  4

ü  3

ü  2

ü  1

 

  1. Performansi

No

aspek

kriteria

Skor

1

kerjasama

ü  Bekerja sama

ü  Kadang-kadang kerjasama

ü  Tidak bekerjasama

4

2

1

2

partisipasi

ü  Aktif berpartisipasi

ü  Kadang-kadang aktif

ü  Tidak aktif

4

2

1

 

  1. Lembar penilaian

No

Nama siswa

Kerjasama

partisipasi

produk

Jumlah skor

Nilai

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebumen, ……., ……, 2013

Mengetahui

Kepala Madrasah

(…………………………)

NIP……………….

 

Guru Mapel

 

(…………………………..)
NIP ………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2013 in Tak Berkategori

 

MAKALAH KKM Dan SKL

MAKALAH

“KKM Dan SKL”

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok

Program Strata Satu (S.1) Pendidikan Agama Islam

Mata Kuliah Kurikulum PAI di SEkolah

Dosen Pembimbing : Drs. H. Fauzi Maksum, M. Pd

 

Oleh

Agun Nawan Hidayat 2103833

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA

 STAINU-KEBUMEN

2012

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr. Wb

Bismillah, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan segala karunia dan nikmatnya yang begitu berlimpah sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan salam penyusun hanturkan kepada sang penyelamat umat manusia nabi agung Muhammad SAW, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumul hisab nanti. Amiin

Terimasih penyusun hanturkan kepada Drs. H. Fauzi Maksum, M. Pd selaku pembimbing mata kuliah Kurikulum PAI di Sekolah, dan semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, segala saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Wasalam.

 

 

 

Kebumen, 18 Desember 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………….

KATA PENGANTA ……………………………………………………….

DAFTAR ISI ……………………………………………………………….

BAB I : PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang ………………………………………………………
  1. Rumusan Masalah ……………………………………………………
  2. Tujuan………………………………………………………………..

BAB II : PEMBAHASAN

  1. Kriteria Ketuntasan Minimal ………………………………………..
  2. Standar Kompetensi Lulusan …………………………………………..
  3. Contoh Standar Kompetensi Lulusan, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar……………….

BAB III : PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………

 

I

Ii

 

1

1

1

 

2

3

 

4

 

6

 

 

BAB I

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Untuk menentukan dan melihat keberhasilan peserta didik maka dapat ditinjau dari kemampuan peserta didik terhadap KKM. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan.KKM ditetapkan ini ditetapkan diawal tahun ajaran oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan Pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama melalau beberapa pertimbangan.

Dan sebagaimana dikemukakan dalam peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005  Standar Nasional Pendidikan (SNP), bahwa “ Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup, sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Standar Kompetensi lulusan tersebut berfungsi sebagai kriteria dalam menentukan kelulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan; rujukan untuk penyusunan standar-standar pendidikan lain dan merupakan arah peningkatan kualitas pendidikan secara mendasar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, serta merupakan pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik, yang melipiuti kompetensi untuk seluruh mata pelajaran, serta mencakup aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan.

 

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. apa itu fungsi KKM, dan bagaimana penetapannya ?
    2. apa yang dimaksud dengan SKL itu?

 

  1. C.    Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, penulisan makalah ini bertujuan menambah pemahaman baru mengenai apa saja itu KKM, bagaimana fungsi dari KKM dalam pendikan, bagaimana menerapkannya. Selain untuk mengetahui KKM didalam makalah ini membahas tentang SKL yang mengenai bagaimana fungsi dari Skl dan apa saja bagia-bagiannya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Kriteria Ketuntasan Minimal
    1. Pengertian KKM

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. KKM harus ditetapkan diawal tahun ajaran oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan Pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.

  1. Fungsi KKM
  2. Sebagai acuan bagi seorang guru untuk menilai kompetensi peserta didik sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) suatu mata pelajaran atau Standar Kompetensi (SK)
  3. Sebagai acuan bagi peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti pembelajaran
  4.  Sebagai target pencapaian penguasaan materi sesuai dengan SK/KD – nya
  5. Sebagai salah satu instrumen dalam melakukan evaluasi pembelajaran
  6. Sebagai “kontrak” pedagogik antara pendidik, peserta didik dan masyarakat (khususnya orang tua dan wali murid)
    1. Tahapan Penetapan KKM

Seperti pada uraian diatas bahwa penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Adapaun langkah dan tahapan penetapan KKM antara lain:

  1. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik. Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK hingga KKM mata pelajaran.
  2. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian
  3. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan dinas pendidikan
  4. KKM dicantumkan dalam laporan hasi belajar atau rapor pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik

Jadi yang menjadi pertimbangan dalam menentukan KKM adalahkompleksitas, daya dukung, dan intake. Kompleksitas mengacu pada tingkat kesulitan Kompetensi Dasar yang bersangkutan. Daya dukung meliputi kelengkapan mengajar seperti buku, ruang belajar, laboratorium (jika diperlukan) dan lain-lain. Sedangkan Intake merupakan kemampuan penalaran dan daya pikir peserta didik.

 

  1. B.     Standar Kompetensi Lulusan
    1. Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) satuan pendidikan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencangkup pengetahuan, ketrampilan dan sikap, yang digunakan sebagai  pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.

SKL pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.[1]

SKL pada jenjang pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

SKL pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.[2]

Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 23 Tahun 2006 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pelaksanaan SI-SKL Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2006 menetapkan tentang pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.[3]

  1. Standar Kompetensi Kelompok Mata  Pelajaran

Standar kompetensi mata pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat atau semester untuk kelompok mata pelajaran tertentu.[4]

  1. Standar Kompetensi Dan  Kompetensi Dasar

Standar Kompetensi Merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

Kompetensi Dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.[5].

Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sedangkan dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian.[6]

 

  1. C.    Contoh Standar Kompetensi Lulusan, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar
    1. Standar Kompetensi Lulusan

Standar Kompetensi Lulusan SMA Negeri Bumi Panyawang adalah sebagai berikut.

  1. Berperilaku sesuai dengan ajaran yang dianutsesuai dengan perkembangan remaja.
  2. Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta serta memperbaiki kekurangannya.
  3. Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan dan pekerjaan.
  4. Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan social.
  5. Standar Kompetensi Kelompok mata pelajaran

Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP) SMA Bumi Panyawang dikembangkan berdasarkan tujuan, cakupan muatan  kegiatan setiap kelompok mata pelajaran sebagai berikut.

  1. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak mulia bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
  2. Kelompok Mata Pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
  3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan mengembangkan logika, kemampuan berpikir, dan analisis peserta didik.
  4. Kelompok mata pelajaran estetika bertujuan membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya.
  5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan bertujuan membentuk Karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas.
  6. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Standar Kompetensi : Memahami mubtada dan khobar

Kompetensi Dasar :

  1. Mengidentifikasikan arti mubtada dan khobar.
  2. Mampu menemukan mubtada dan khobar dalam teks bahasa Arab.
  3. Mampu membuat kalimat dengan menggunakan mubtada dan khobar.
  4. Mampu mengi’rob mubtada dan khobar

BAB III

KESIMPULAN

           Dari pemaparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. KKM harus ditetapkan diawal tahun ajaran oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan Pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.

Standar Kompetensi Lulusan mencakup Standar Kompetensi Lulusan- Satuan Pendidikan (SKL-SP), Standar Kompetensi – Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP), serta Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD). Standar Kompetensi Lulusan (SKL) satuan pendidikan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencangkup pengetahuan, ketrampilan dan sikap, yang digunakan sebagai  pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

Adapun Standar kompetensi mata pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat atau semester untuk kelompok mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi Merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. Kompetensi Dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim.” Standar Kompetensi Lulusan”. dalam  http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=63/.

Anonim. ”Pengertian dan Komponen RPP”.

         dalam   http://zizer.wordpress.com/2009/12/05/pengertian-dan-komponen-rpp.

Mulyasa, E. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru

           dan  Kepala Sekolah. Jakarta:  PT. Bumi Aksara. 2010.

Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 2007

 



[1] E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), 27.

[2] Op. Cit, Kurikulum Tingkat Satuan,91.

[3] Anonim” Standar Kompetensi Lulusandalam  http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=63/ (24 April 2012).

[4] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan,97.

[5] Anonim, ”Pengertian dan Komponen RPP”, dalam http://zizer.wordpress.com/2009/12/05/pengertian-dan-komponen-rpp  (1 maret 2012).

[6] Op. Cit, Kurikulum Tingkat Satuan,109.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Desember 2012 in KURIKULUM

 

Menjadi Aktor dan Emansipator Yang Baik Dalam Pendidikan

MENJADI AKTOR DAN EMANSIPATOR

YANG BAIK DALAMPENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Semester V

Program Strata Satu (S1) Fakultas Tarbiyah

Mata Kuliah: Administrasi Pendidikan

Dosen

Sobari Waluyo, M. Pd

 

Oleh

Agun Nawan Hidayat (2103833)
Kelas /Semester : F/V PAI

 

 

 


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA

STAINU-KEBUMEN
2012

KATA PENGANTAR

 

Asslamu alaikum wr. wb.

Bismillah, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan segala karunia dan nikmatnya yang begitu berlimpah sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan salam penyusun hanturkan kepada sang penyelamat umat manusia nabi agung Muhammad SAW, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumul hisab nanti. Amiin

Terimasih penyusun hanturkan kepada Sobari Waluyo, M. Pd selaku pembimbing mata kuliah Administrasi Pendidikan, dan semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, segala saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Wasalam.

 Kebumen, 15 Desember 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………..

KATA PENGANTAR ………………………………………………………

DAFTAR ISI …………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang ………………………………………………………
  2. Rumusan Masalah …………………………………………………..
  3. Tujuan ……………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASA

  1. Guru Sebagai Penulis Naskah, Sutradara dan Sekaligus Aktor
  2. Guru Sebagai Penulis Naskah …………………………………
  3. Guru Sebagai Sutradara ……………………………………….
  4. Guru Sebagai Aktor ……………………………………………
    1. Guru Sebagai Emanipator ………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pendidikan adalah suatu bentuk investasi jangka panjang yang penting bagi seorang manusia. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia yang pantas dan berkelayakan di masyarakat serta tidak menyusahkan orang lain. Masyarakat dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju mengakui bahwa pendidik merupakan satu diantara sekian banyak unsur pembentuk utama calon anggota masyarakat. Namun, wujud pengakuan itu berbeda-beda antara satu masyarakat dan masyarakat yang lain. Sebagian mengakui pentingnya peranan guru itu dengan cara yang lebih konkrit, sementara yang lain masih menyangsikan besarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah daripada yang sepantasnya.

Demikian pula, sebagian orang tua kadang-kadang merasa cemas ketika menyaksikan anak-anak mereka berangkat ke sekolah, karena masih ragu akan kemampuan guru mereka. Di pihak lain setelah beberapa bulan pertama mengajar, guru-guru pada umumnya sudah menyadari betapa besar pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembinaan kepribadian peserta didik

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

  1. Bagaimana peran guru sebagai Aktor?
  2. Bagaimana peran guru sebagai Emansipator?

    C.    Tujuan

Untuk mengetahui peranan guru sebagai Aktor, dan untuk mengetahui peranan guru sebagai Emansipator.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Guru Sebagai Penulis Naskah, Sutradara dan Sekaligus Aktor

Menjadi guru memang tidaklah gampang, karena guru dalam membelajarkan siswa sangat dituntut profesionalismenya dalam membuka sekaligus mengembangkan potensi serta motivasi belajar siswa. Ibarat sebuah sinetron maka guru dalam pementasan sebuah adegan dalam setiap episode pembelajaran berperan sebagai penulis naskah (skenario), sutradara dan sekaligus pemain bersama dengan siswa.[1]

  1. Guru Sebagai Penulis Naskah.

Dalam perannya sebagai penulis naskah sebelum pelaksanaan pembelajaran guru harus mempersiapkan materi (bahan ajar) pembelajaran yang akan mendukung dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Bahan ajar tersebut harus memuat ketercapaian kompetensi dasar yang dituangkan dalam bentuk indikator-indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. Di samping itu bahan ajar dalam pengembangannya harus menganut prinsip sebagai berikut:

  1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak;
  2. Pengulangan untuk memperkuat pemahaman;
  3. Umpan balik positif untuk memberikan penguatan terhadap pemahaman peserta didik;
  4. Motivasi belajar yang tinggi sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan belajar;
  5. Untuk mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu;
  1. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik untuk terus mencapai tujuan.
  2. Guru Sebagai Sutradara.

Dalam perannya sebagai sutradara, guru lebih awal harus memperoleh informasi sekaligus mengumpulkan data tentang kondisi awal siswa yang akan diajar kemudian mempersiapkan segala bahan dan peralatan yang kan dipakai setelah action dikelas. Hal ini dimaksudkan supaya dalam menyusun rancangan pembelajaran (skenario) yang sekarang lebih dikenal dengan nama Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru dapat memilih materi, metode, strategi dan penilaian pembelajaran yang tepat. Dalam RPP yang dibuat guru sedapat mungkin dapat komunikatif artinya dapat menuntun jalannya adegan-adegan di dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari kegiatan persiapan, kegiatan inti sampai pada kegiatan penutup. Bila perlu dan demi lancarnya kegiatan pembelajaran guru masih diharapkan dapat memberi penjelasan-penjelasan yang terkait lakon yang harus dilakukan siswa sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Khususnya dengan metode dan strategi pembelajaran pada dasarnya tidak ada satupun metode atau strategi yang paling bagus, kecuali jika digunakan pada situasi dan kondisi yang tepat. Salah menggunakan metode atau strategi maka sudah barang tentu tujuan pembelajaran yang akan dicapai tidak akan maksimal.[2]

  1. Guru Sebagai Aktor

Dalam perannya sebagai aktor (pemain), setelah naskah (materi) ada, skenario lengkap, sutradara sudah bekerja dengan baik maka selanjutnya guru masih harus berperan sebagai pemain langsung dalam setiap episode pembelajaran. Walaupun dalam filosofi pembelajaran yang dikembangkan sekarang peran dan fungsi guru bukan lagi sebagai pengajar melainkan lebih kepada sebagai fasilitator. Dalam perannya sebagai fasilitator tidak berarti bahwa guru sudah terlepas dari tugas sebagai pengajar, akan tetapi bentuk mengajarnya guru lebih besifat kepada bentuk pembimbingan dan bahkan sekali-kali menjadi model dalam setiap episode pembelajaran. Guru senantiasa harus mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan baik dilakukan dalam bentuk layanan individu maupun dalam bentuk layanan kelompok.

Berikut ini hal-hal yang perlu dilakukan guru dalam setiap episode pembelajaran:

  1. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Artinya guru harus berusaha melibatkan emosional siswa pada materi yang akan dipelajari misalkan dengan menghubungkan materi dengan kondisi keseharian siswa serta meenyampaikan manfaat atau kegunaan materi tersebut dipelajari;
  2. Menjelaskan tujuan pembelajaran. Ini dimaksudkan agar supaya siswa punya batasan atau sasaran dalam mengeksplorasi serta mengelaborasi pengetahuannya;
  3. Menciptakan kegiatan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.Kegiatan pembelajaran menggunakan metodeyang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi;
  4. Melakukan pembimbingan baik secara individu maupun secara kelompok;
  5. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  6. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  7. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  8. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Tak terbantahkan lagi, guru menjadi figur sentral dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Begitu pintu kelas ditutup, puluhan pasang akan mengalihkan perhatiannya kepada sosok yang berdiri di depan kelas. Mulai ujung rambut hingga ujung kaki akan “ditelanjangi” oleh peserta didik. Tak berlebihan kalau ada yang bilang, figur seorang guru akan menjadi “rujukan” para siswa dalam bersikap dan bertingkah laku. Itu juga yang makna yang melekat pada akronim “Digugu dan Ditiru” (dipercaya dan diteladani).[3]

Mengingat demikian pentingnya peran seorang guru di depan kelas, tak perlu heran juga kalau ada yang mengibaratkan guru bagaikan aktor. Hidup-matinya sebuah kelas akan sangat ditentukan peran seorang guru dalam mendesain dan mengelola kelas. Ia (baca: guru) juga diibaratkan seperti konduktor yang akan mengatur irama dan orkestra kelas. Semakin kreatif seorang guru dalam mendesain situasi kelas, semakin hidup pula permainan orkestrasi kelas yang dikendalikannya.

Seiring dengan dinamika pembelajaran yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan peradaban, guru memang bukan menjadi satu-satunya sumber belajar. Di tengah kemajuan teknologi pada abad gelombang informasi seperti saat ini, anak-anak bisa memperoleh asupan ilmu dari berbagai sarana dan media. Kini, anak-anak dengan mudah mengakses berbagai informasi mutakhir yang terkait dengan dunia keilmuan di jagad maya. Hanya dengan berhadapan dengan layar monitor yang terhubung secara online dengan jaringan internet, peserta didik dapat menjelajahi lautan informasi keilmuan (nyaris) tanpa batas.

Dalam konteks demikian, guru pun diharapkan juga tak ketinggalan informasi dengan murid-muridnya. Sungguh celaka apabila guru yang menjadi salah satu sumber belajar bagi siswa didik, penguasaan informasinya justru “disalip” oleh murid-muridnya. Ini artinya, dalam situasi dan kondisi apa pun, guru jelas masih sangat membutuhkan kewibawaan masih melekat ke dalam “darah” ke-resi-annya. Salah satu cara yang paling tepat untuk menegakkan wibawa guru adalah penguasaan substansi materi keilmuan sesuai dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebagai seorang aktor, guru haru melakukan apa yang ada di dalam naskah yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Penampilan yang bagus dari seorang aktor akan mengkibatkan para penonton tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh, dan bisa pula menangis terbawa oleh penanmpilan sang aktor. Untuk bisa berperan sesuai dengan tuntutan naskah, dia harus menganalisis dan melihat kemampuannya sendiri, persiapannya, memperbaiki kelemahan, menyempurnakan aspek-aspek baru dari setiap penampilan, mempergunakan pakaian, tata rias sebagaimana diminta, dan kondisinya sendiriuntuk menghadapi ketegangan emosinya dari malam ke malam serta mekanisme fisik yang baru ditampilkan.[4]

Sang aktor harus siap mental terhadap pernyataan senang dan tidak senang dari para penonton dan kritik yang diberikan oleh media massa. Emosi harus dikuasai karena kalau seseorang  telah mencintai atau membenci sesuatu akan berlaku tidak objektif, perilakunya menjadi distorsi dan tak terkontrol. Ringkasnya, untuk menjadi aktor yang mampu membuat para penonton bisa menikmati penampilannya serta memahami pesan yang ingin disampaikan, diperlukan persiapan, baik pikiran, perasaan maupun latihan fisik.

Setiap individu memiliki banyak peran untuk dimainkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kebanyakan menolak anggapan bahwa gagasan dan pengalaman, serta harus menyadari bahwa orang lainpun berkesempatan untuk memilikinya. Untuk dapat mentransfer gagasan, ia harus mengembangkan pengetahuan yang telah dikumpulkan serta mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan pengetahuan itu. Kemampuan berkomunikasi merupakan suatu seni atau keterampilan yang dikenal dengan mengajar.

Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga juga tentang keperibadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarannya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol. Untuk melakukan hal ini ia mempelajari semua hal  yang berhubungan dengan tugasnya, sehingga dapat bekerja secara efektif.

Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya. Tahun demi tahun sang aktor berusaha mengurangi respon bosan dan berusaha meningkatkan minat para pendengar. Demikianlah, guru memiliki kemampuan menunjukkan keterampilannya di depan kelas. Guru harus menguasai materi standar dalam bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya, memperbaiki keterampilan, dan mengembangkan untuk mentransfer bidang studi itu. Ia mempelajari peserta didik, alat-alat yang dapat dipergunakan untuk menarik minat, dan tentu saja mempelajari bagaimana menggunakan alat-alat secara efektif dan efesien.[5]

Bidang studi yang harus diajarkan telah diseleksi sebagai bagian dari kurikulum. Guru harus mempelajarinya dengan seksama, termasuk urutan penyajiannya. Berbagai usaha untuk meningkatkan minat dan mempermudah pencapaian tujuan haruslah dilaksanakan, misalnya alat peraga, warna dinding dan pengaturan cahaya atau fentilasi kelas.

Untuk menghibur orang-orang yang merasa bahwa guru bukanlah seorang aktor atau harus tidak bertindak sebagai aktor, sebaiknya dilihat proses bagaimana dia menjadi seorang aktor yang nyata. Ia memilih mengajar sebagai karier, mengabdi melalui bidang studi tertentu, yang memerlukan waktu, uang, tenaga dan harus menguasai bidangnya, serta belajar mengajarkannya kepada orang lain.

Guru harus mampu tampil prima di depan kelas menyampaikan materi pelajaran dengan memikat sehingga siswa antusias dan bersemangat. Problemnya, seringkali guru ‘kurang cara’ untuk tampil memikat menjadikan situasi belajar-mengajar (KBM) membosankan.

Tersirat dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bahwa guru yang profesional harus mempu menciptakan situasi belajar-mengajar (KBM) yang kondusif. Tujuannya agar siswa bersemangat dan terinspirasi untuk terus belajar. Guru pun harus selalu mengeksplorasi metode serta setrategi pembelajaran agar siswa antusias menyimak materi pelajaran. Begitulah, tugas guru ternyata tidak sekedar menyampaikan materi yang diamanatkan kurikulum.[6]

Seorang aktor harus mampu mengatasi rasa kurang percaya diri dengan berbagai latihan dan tindak pengkondisian psikis.  Sehingga tidak ada salahnya guru melakukan tindak pengkondisian psikis. Menjadi aktor tunggal di depan kelas harus mampu ‘berakting’ yang total agar ‘pertunjukkan’ menarik. Implikasinya, guru harus selalu mengeksplorasi materi ajar yang di-create menjadi mentode pengajaran yang memikat.

Kesimpulannya adalah masalah utama justru ada dalam diri guru itu sendiri. Rasa kurang percaya diri muncul karena malu untuk mengeksplorasi metode yang kurang lazim. Sebab siswa akan jenuh jika menghadapi guru yang normatif dan tidak memiliki ‘kejutan-kejutan’ baru dalam menyampaikan materi pelajaran.

Dalam ilmu keaktoran, kejutan-kejutan ini ibarat suspen in act. Diperlukan kekreatifan imajinasi untuk memunculkan kejutan baru itu. Guru pun harus memiliki kekreatifan metode sehingga apapun pelajarannya tetap menarik. Patut diingat bahwa tidak ada eksplorasi yang salah selalu berdasar rencana pengajaran. Jadi menaapa harus malu berekspr/. [7]

B.    Guru Sebagai Emansipator

Emansipasi (Emansipator) adalah pembebasan kaum budak menjadi kaum yang merdeka. Dengan kata lain emansipasi adalah persamaan hak. Sebagai kaum pendidik, guru seharusnya menyadari bahwa di dalam tugasnya terkandung unsur keadilan, penggugah semangat peserta didik dan  penerang dalam kegelapan  generasi masa depan. Dengan modal memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan, guru hendaknya menyadari bahwa kebanyakan manusia  merupakan budak stagnasi kebudayaan.[8]

Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan, dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan budak stagnasi kebudayaan. Ketika masyarakat membicarakan rasa tidak senang kepada peserta didik tertentu, guru harus mengenal kebutuhan peserta didik tersebut akan pengalaman, pengakuan, dan dorongan. Dia tahu bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari self image yang tidak menyenangkan, kebodohan, dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Dalam hal ini, guru harus mempu melihat sesuatu yang tersirat di samping yang tersurat, serta mencari kemungkinan pengembangannya.[9]

Untuk memiliki kemampuan yang tersirat, perlu memanfaatkan pengalaman selama bekerja, kesabaran dan tentu saja kemampuan menganalisis fakta yang dilihatnya, sehingga guru mampu mengubah kemampuan peserta didik dari status “terbuang” menjadi “dipertimbangkan” oleh masyarakat. Guru telah melaksanakan fungsinya sebagai emansipator, ketika peserta didik yang telah menilai dirinya sebagai pribadi yang tak berharga, merasa dicampakkan orang lain atau selalu diuji dengan berbagai kesulitan sehingga hampir putus asa, dibandingkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri. Ketika peserta didik hampir putus asa, diperlukan ketelatenan, keuletan dan seni memotivasi agar timbul kembali kesadaran, dan bangkit lagi harapannya.

Guru sadar bahwa informasi tertentu telah dimiliki peserta didik sebelum mereka masuk kelas, ia juga sudah sadar bahwa apa yang diketahui orang bisa jadi fakta yang belum diorganisir menjadi hubungan yang bermakna. Salah satu tanda bahwa peserta didik telah memahami hubungan yang bermakna adalah mampu menjelaskan apa yang diketahuinya. Karena itu, guru harus membina kemampuan peserta didik untuk menginformasikan apa yang ada dalam pikirannya. Jika kemampuan tersebut telah dimiliki, maka perasaan rendah diri tadi berangsur-angsur hilang, dan bebaslah peserta didik dari keadaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini, guru telah melakukan emansipasi.

Bagaikan seorang penasehat, guru melihat potensi yang terdapat pada benda (bahan) yang dikerjakannya. Dia menerima itu sebagaimana adanya, dan dengan penuh kesungguhan bahan itu “dijadikan”. Demikianlah guru menerima peserta didik yang datang dengan berbagai latar belakang budaya di sekelilingnya.

Karena benda yang digarap bukan benda mati sebagaimana yang digarap oleh pemahat, maka guru berkewajiban mengembangkan potensi peserta didik sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang kreatif. Untuk itu dia memberikan kesempatan kepada peserta didik mengajukan pertanyaan, memberikan umpan balikan, kritik, dan sebagainya, sehingga mereka merasa memperoleh kebebasan yang wajar.

Dalam komunitas makhluk hidup pada umumnya  dan komunitas siswa khususnya  pasti ada kelompok pandai, sedang dan kurang pandai, kelompok aktif, sedang dan kurang aktif, kelompok rajin, sedang dan kurang rajin, dan lain-lain yang akhirnya secara psikologis mereka membuat kelompok-kelompok yang anggotanya dianggap setara.

Kelompok yang terakhir  yakni kelompok kurang mampu, kurang pandai, kurang rajin, kurang aktif, kurang cerdas sering mengalami minder, kurang percaya diri, tidak termotivasi untuk mengembangkan diri dan paling parah timbulnya perasaan putus asa.

Menghadapi kelompok yang demikian, guru hendaknya segera bertindak sesuai perannya sebagai emansipator. Mengembalikan kelompok ini menjadi  bangkit, termotivasi, percaya diri dan tidak putus asa adalah peran guru sebagai emansipator.[10]

 


 

BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Dalam ilmu keaktoran, kejutan-kejutan yang dilakukan seorang actor ibarat suspen in act. Diperlukan kekreatifan imajinasi untuk memunculkan kejutan baru itu. Guru pun harus memiliki kekreatifan metode sehingga apapun pelajarannya tetap menarik. Patut diingat bahwa tidak ada eksplorasi yang salah selalu berdasar rencana pengajaran. Jadi mengapa harus malu berekspresi? Karena guru adalah aktor.

Emansipasi (Emansipator) adalah pembebasan kaum budak menjadi kaum yang merdeka. Dengan kata lain emansipasi adalah persamaan hak. Sebagai kaum pendidik, guru seharusnya menyadari bahwa di dalam tugasnya terkandung unsur keadilan, penggugah semangat peserta didik dan  penerang dalam kegelapan  generasi masa depan. Dengan modal memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan, guru hendaknya menyadari bahwa kebanyakan manusia  merupakan budak stagnasi kebudayaan.

 B.     Saran

Tak ada gading yang tak retak, begitupun dengan penulisan makalah ini. Sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan. akhir kata kami ucapkan terimakasih semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

 

Cucuk, Suparno. 2010. http://suaraguru.wordpress.com/2010/12/07/guru-adalah-aktor/.

Marijan. 2010. http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2010/12/23/lima-e-sikap-guru-berkualitas/.

MPR RI. 2011. UUD RI 1945 dan Ketetapan MPR RI. Jakarta: Sekjen MPR RI.

Muhadi, Umar. 2010. http://umarmuhadi.blogspot.com/2010/10/guru-sebagai-penulis-naskah-sutradara.html.

…Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesonal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

…Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesonal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset .

Sawali. 2010. http://pawiyatan.com/2010/12/09/guru-sebagai-aktor-di-depan-kelas/


[2]Muhadi, Ibid. 3 April 2012

[4]Mulyasa, Menjadi Guru Profesonal, (Cet. VII Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2008), hal. 59

[5]Mulyasa, Ibid, Hal. 59

[6] MPR RI, UUD RI 1945 dan Ketetapan MPR RI, (Cet. X, Jakarta: Sekjen MPR RI, 2011), hal. 197

[7]Cucuk, Ibid, Pada 02 April 2012

[8] Mulyasa, Menjadi Guru Profesonal, (Cet. V Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal. 56

[9] Mulyasa, Ibid, hal. 60

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2012 in ADMINISTRASI PENDIDIKAN

 

SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM PAI DI MADRASAH

 

SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM PAI DI MADRASAH

Tugas Terstruktur

Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PAI di Madrasah

Dosen Pembimbing : Dr. H. Rahmat Raharjo, M, Ag

Disusun oleh:

Khikmatul munawaroh                : 2103841

Puji Asih Utami                               : 2103853

Siti Sofingatun                                 : 2103858

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA

 STAINU-KEBUMEN

2012

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kurikulum merupakan program pendidikan bukan program pengajaran, yaitu program yang direncanakan , diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Berbagai bahan tersebut direncanakan secara sistematik, artinya direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai faktor pendidikan secara harmonis. Berbagai bahan ajar yang dirancang tersebut harus sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, GBHN, UU Sisdiknas, PP No.27 dan 30, adat istiadat dan sebagainya. Program tersebut akan dijadikan pedoman bagi tenaga pendidik maupun peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar dapat mencapai cita-cita yang diharapkan sesuai dengan tertera pada tujuan pendidikan.

Pada dasarnya pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharakan karena adanya berbagai pengaruh positif yang datangnya dari luar atau dari dalam itu sendiri,dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depanya dengan baik.[1]

kurikulum madrasah ialah, suatu program pendidikan di madrasah yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sitematik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijasikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidkan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dalam hal ini kurikulum pendidikan Islam merupakan salah satu komponen yang amat penting dalam proses pendidikan Islam. Kekeliruan dalam menyusun kurikulum, akan membawa ahli didik mengemukakan ketentuan berbagai macam guna penyusunan kurikulum itu. Kurikulum yang sejalan dengan idealitas Islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup Islami.

Dalam sejarah perkembanganya kurikulum madrasah khususnya kurikulum PAI di madrasah juga dirancang atas beberapa kesepakatan yaitu antara lain: kurikulum pasca UU No. 2/2003, UU tahun 1989, dan kesepakatan SKB 3 Menteri. Dalam pembahasan makalah ini kita akan membahas bagaimana kurikulum yang ada di madrasah, serta apa tujuan dari kurikulum tersebut. Selain itu juga kita akan membahas tentang adanya modernisasi kurikulum PAI di madrasah, kurikulum PAI di madrasah awal pertumbuhan  dan apa idealismenya kurikulum PAI di madrasah.

Madrasah yang merupakan salah satu pelaksana pendidikan di Indonesia sangatlah gencar melaksanakan trobosan-trobosan yang diharapkan mampu untuk lebih mengembangkan pendidikan di Negara kita yang bukan lagi sebagai lembaga yang memiliki kualitas yang rendah jika dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Dalam hal ini departemen agama sebagai penanggung jawab pelaksanaan pendidikan di Madrasah telah menentapkan berbagai format pendidikan keagamaan diantaranya: Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    MODERNISASI KURIKULUM PAI DI MADRASAH

Sejak zaman penjajahan, bangsa Indonesia telah memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Namun pelaksanaannya masih diwarnai oleh kepentingan politik kaum penjajah, sehingga tujuan pendidikan yang hendak dicapaipun disesuaikan dengan kepentingan mereka. Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, bangsa Indonesiapun menunjukan kepeduliannya terhadap pendidikan. Hal itu terbukti dengan menempatkan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan nasional bangsa Indonesia. Sebagaimana tertulis dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945.[2]

Dengan demikian maka tujuan pendidikan yang hendak dicapaipun disesuaikan dengan kepentingan bangsa Indonesia, yang sekarang ini tujuan pendidikan tersebut dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional (UU sisdiknas) BAB II pasal 3.[3]

Agar tujuan tersebut dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan maka diperlukan suatu alat untuk mencapainya, yaitu “segala sesuatu yang secara langsung membantu terlaksananya tujuan pendidikan” (Barnadib, 1987:96).

Sehubungan dengan alat pendidikan ini, Ahmad Supardi (1989:9), membagi alat pendidikan ke dalam dua bagian, yaitu :

  1. Alat pisik, berupa segala perlengkapan pendidikan yang berupa sarana dan fasilitas dalam bentuk konkrit, seperti bangunan, alat tulis dan baca dan lain sebagainya.
  2. Alat non pisik, berupa kurikulum, pendekatan, metode dan tindakan berupa hadiah dan hukuman serta uswatun hasanah atau contoh teladan yang baik dari pendidik.

Berdasarkan pembagian alat pendidikan yang dikemukakan Ahmad Supardi di atas, jelaslah bahwa salah satu dari alat pendidikan diantaranya adalah kurikulum.

Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, kurikulum harus mencerminkan kepada falsafah sebagai pandangan hidup suatu bangsa, karena ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa itu kelak, banyak ditentukan dan tergambarkan dalam kurikulum pendidikan bangsa tersebut.

Sering terjadi jika suatu negara mengalami perubahan pemerintahan, politik pemerintahan itu mempengaruhi pula bidang pendidikan yang sering mengakibatkan terjadinya perubahan kurikulum tang berlaku. Sebagai contoh sebelum Indonesia merdeka setidaknya telah terjadi dua kali perubahan kurikulum, yang pertama ketika di jajah belanda kurikulum disesuaikan dengan kepentingan politiknya. Kedua ketika dijajah Jepang kurikulum disesuaikan dengan kepentingan politiknya yang bersemangatkan kemiliteran dan kebangunan Asia Timur Raya. Kemudia setelah Indonesia merdeka pra orde baru terjadi pula dua kali perubahan kurikulum, yang pertama dilakukan dengan dikeluarkannya retjcana pelajaran tahun 1947 yang menggantikan seluruh sistem pendidikan kolonial, kemudian pada tahun 1952 kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan dan diberinana rentjana Pelajaran terurai 1952.Perubahan kedua terjadi dengan dikeluarkannya rentjana pendidikan tahun 1964, perubahan tersebut terjadi karena merasa perlunya peningkatan dan pengejaran segala ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu alam dan matematika.

Saat orde baru terlahirpun kurikulum mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan pertama terjadi dengan dikeluarkannya kurikulum 1968 yang didasari oleh adanya tuntutan untuk mengadakan perubahan secara radikal pemerintahan orde lama dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan. Perubahan kedua terjadi dengan diterbitkannya kurikulum tahun 1975 (disempurnakan dengan kurikulum 1976 dan 1977). Perubahan ketiga terjadi dengan diberlakuannya kurikulum tahun 1984. Dan Perubahan keempat terjadi Ketika di negara kita diberlakukan Undang-undang Sistem pendidikan Nasional (UUSPN) pada tahun 1989 beserta seperangkat peraturan pemerintah yang mengatur lebih lanjut pelaksanaan UUSPN tersebut, menyebabkan perlunya pembuatan atau penyusunan kurikulum yang sesuai dengan rumusan pasal-pasal yang tercantum dalam UUSPN dan peraturan pemerintahnya. Maka pada Tahun 1994 di negara kita diberlakukan kurikulum baru sesuai dengan keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993.

Perubahan dan perbaikan kurikulum itu wajar terjadi dan memang harus terjadi, karena kurikulum yang disajikan harus senantiasa sesuai dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Subandijah (1993:3), bahwa :

Apabila kurikulum itu dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum dalam kedudukannya harus memiliki sipat anticipatori,  bukan hanya sebagai reportorial. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus dapat meramalkan kejadian di masa yang akan datang, tidak hanya melaporkan keberhasilan peserta didik.

Seiring  dengan terjadinya perubahan politik dan bergantinya rezim orde baru dan terjadinya amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 menyebabkan eksistensi Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dirasakan tidak lagi memadai dan tidak lagi sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut dipandang perlu menyempurnakan UUSPN tersebut, dan pada tahun 2003 dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia menetapkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kemudian lebih dikenal dengan UU SISDIKNAS.

Sesuai dengan tuntututan UU SISDIKNAS pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyebabkan kurikulum yang berlaku di sekolah adalah kurikulum yang sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Agar kurikulum yang digunakan di sekolah sesuai dengan standar nasional pendidikan maka Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia mengeluarkan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi yang di dalamnya memuat tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, standar kompetensi dan kompetensi dasar. Untuk sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Departemen Agama tidak ketinggalan Menteri Agamapun mengeluarkan Peraturan Menteri Agama No. 2 Tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bhasa Arab di Madrasah.B.     KURIKULUM PAI DI MADRASAH AWAL PERTUMBUHAN

Pada awal pertumbuhanya kurikulum madrasah terdapat dua hal yaitu:

  1. A.    Periode sebelum  kemerdekaan

 Pada periode ini system pendidikan dan  pengajaran agama islam Al-qur’an dan pengajian kitab yang diselenggarakan dirumah-rumah, surau,masjid, pesntren, dan lain-lain pada perkembanganya selanjutnya mengalami perubahan bentuk baik dari segi kelembagaan, maateri pengajaran atau kurikulum, metode maupun strutur organisasinya sehingga melahirkan suatu bentuk yang baru yang disebut madrasah.

  1. B.     Periode setelah kemerdekaan

Pada periode ini setelah Indonesia merdeka maka dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah keberagamaan di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan, khusunya madrasah. Namun pada perkembangan selanjutnya, mdrasah walaupunsudah berada di bawah naungan departemen agama tetapi hanya sebatas pembinaan dan pengawasan.[4]

  Sungguh pun pendidikan islam telah berjalan lama dan mempunyai jalan panjang.[5] Namun dirasakan pendidikan islam masih tersisih dari sitem pendidikan nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dikeluarkanya SKB 3 Menteri.

  1. C.    PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI DI MADRASAH PADA MASA SKB 3 MENTERI

Dengan diterbitkanya SKB 3 Menteri itu bertujuan antara lain untuk meningkatkan mutu pendidikan dilembaga-lembaga pendidikan islam, SKB 3 Menteri ini dikeluarkan pada 24 Maret 1975, yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan islam untuk memasuki mainstream pendidikan nasional, kebijakan ini menjadikan madrasah setara dan sederajat dengan sekolah umum lainya.  Guna memenuhi tuntutan SKB 3 Menteri pelu diadakan pembinaan serta pembaharuan kurikulum secara menyeluruh, untuk itu telah diadakan berbagai usaha, penyusunan metode mengajar, standarisasi buku-buku madrasah dan alat-alat pelajaran.

Dibawah ini akan dikemukakan langkah-langkah pokok pengembangan, strategi penyusunan dan susunan kurikulum madrasah.[6]

  1. Langkah – langkah pokok.

Langkah-langkah pokok yang ditempuh dalam pengembangan kurikulum madrasah adalah:

  1. Perumusan tujuan-tujuan insttusional.
  2. Penentuan struktur program kurikulum.
  3. Penyusunan garis-garis besar program pengajaran, masing-masing dari setiap bidang studi, perumusan tujuan-tujuan instruksionaldan identifikasi pokok-pokok bahan yang dijadikan program pengajaran.
  4. Penyusunan dan penggunaan satuan pelajaran, program penilaian, program bimbingan dan penyuluhan, program administrasi serta supervisi.

Langkah-langkah tersebut diatas telah mendasari sifat-sifat dalam rangka pengembangan dan pembaharuan pendidikan yang selaras dan sesuai dengan system pendidikan nasional.

Masalah-masalah pokok yang dihadapi dalam pengembangan dan pembinaan kurikulum madrasah secara nasional agar madrasah dapat menjalankan SKB 3 Menteri dan mencapai cita-cita agama islam dalam pembentukan insan yang berkepribadian muslim, yang antara lain perlu kita perhatikan adalah tentang bidang studi apa yang akan disampaikan didalam suatu madrasah.[7]

  1. Strategi penyusunan kurikulum

Di dalam penyusunan kurikulum madrasah berdasarkan SKB 3 Menteri digunakan dua macam cara/strategi, yaitu strategiumum dan khusus sebagai dasar pikiran dan rasional.[8]

  1. Srategi umum.

Gagasan pokok ini dijadikan dasar dalam pengembangan dan pembaharuan kurikulum, yaitu lulusan harus menjadi seorang muslim warga Negara yang baik, sanggup menyesuiakan diri dengan didalam masyarakat, bertanggungjawab, memiliki keterampilan, kemampuan, pengetahuan umum agar anak didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini merupakan salah satu yang dapat menunujukan cirri khas antara warga Negara yang memperoleh pendidikan di madrasah.

Gagasan pokok diatas membawa akibat adanya klasifikasi aspek-aspek pada pendidikan di madrasah:

  1. Aspek-aspek pendidikan dasar/umum

Aspek ini dimaksudkan untuk membina sebagai muslim warga Negara yang baik, sesuia dengan pedoman dan pengamalan pancasila, serta agar memiliki kecakapan, keterampilan, pengetahuan dan kemampuan sesuai dengan tingkat pendidikanya.

  1. Aspek-aspek pendidikan khusus

Aspek ini dimaksudkan agar siswa sebagai muslim warga Negara yang baik, bertakwa kepada Allah dan mengamalkan ajaran agamanya secara teguh agar tercapai kebahagiaan  dunia dan akherat.

  1. C.    Srategi Khusus, dasar pikiran dan rasionalnya
  2. Sebagai konsekuansi dari pembinaan system pendidikan nasional dan pelaksanaan SKB 3 Menteri serta tuntunan kualifikasi dari lulusan madrasah dalam rangka peningkatan mutu, diperlukan pembinaan sarana dan perlengkapan, termasuk diantaranya struktur kurikulum dan tenaga pengajar sebagai personal pelaksanaanya.

Kurikulum madrasah perlu diorientasikan kepada kepentingan pembinaan dan pengembangan manusia Indonesia seutuhnya.

  1. Kegiatan belajar yang dikehendaki sekarang bukanlah sekedar menekankan pencapaian kemampuan teoritis, melainkan pengetahuan, kecerdasan, keterampilan,sikap dan nilai-nilai yang keseluruhanya tampak dalam bentuk perubahan tingkah laku anak didik. Dengan demikian madrasah perlu menyediakan rangkaian pengalaman belajar.
  2. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan ialah bagaimana caranya agar pengetahuan yang diberikan di madrasah agar mencapaimaksud SKB 3 mentri tanpa mengurangi mutu pendidikan agama, yang akan menjadikan anak didik sebagi muslim warga Negara yang baik, sehat jasmani dan rohani serta tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
  1. D.    PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI DI MADRASAH PASCA UU No. 20/2003 dan UU No. 2 Tahun 1989

            Setelah lahirnya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berbeda dengan Undang-undang kependidikan sebelumnya, Undang-undang ini mencakup ketentuan tentang semua jalur  dan jenis pendidikan. Jika pada Undang-undang pendidikan Nasional bdertumpu pada sekolah, maka dalam UUSBN ini pendidikan nasional mencakup jalursekolah dan luar sekolah, serta meliputi jenis-jenis pendidikan akademik, pendidikan professional, pendidikan kejuruan dan pendidikan agama.[9]

  Di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah adalah pendidikan agama Islam, yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

Tingkat Satuan Pendidikan di Madrasah ada tiga tingkat yaitu: Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah. Mata pelajaran Pendidikan agama Islam (PAI) di Madrasah terdiri atas empat, yaitu: Al-Qur’an-Hadits, Aqidah-Akhlak, Fiqh, Tarikh (Sejarah) Kebudayaan Islam.

  1. Pengertian tiap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah
    1.  Madrasah Ibtidaiyah.

1)      Al-Qur’an-Hadits Al-Qur’an-Hadits adalah mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan membaca dan menulis al-Qur’an dan hadits dengan benar, serta hafalan terhadap surat-surat pendek dalam al-Qur’an, pengenalan arti atau makna secara sederhana dari surat-surat pendek tersebut dan hadits-hadits tentang akhlak terpuji untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan dan pembiasaan.

2)      Akidah-Akhlak Akidah-Akhlak adalah mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan terhadap al-asma’ al-husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

3)      Fiqih Mata pelajaran Fiqih adalah mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang fiqih ibadah, terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari, serta fiqh muamalah yang menyangkut pengenalan dan pemahaman sederhana mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, qurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.

4)      Sejarah Kebudayaan Islam Sejarah Kebudayaan Islam adalah mata pelajaran PAI yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam di masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai masa Khulafaurrasyidin.

  1.  Madrasah Tsanawiyah.

1)      Al-Qur’an-Hadis Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis MTs ini merupakan kelanjutan dan kesinambungan dengan mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis pada jenjang MI dan MA, terutama pada penekanan kemampuan membaca al-Qur’an-hadis, pemahaman surat-surat pendek, dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.

2)      Akidah-Akhlak Akidah-Akhlak adalah mata pelajaran PAI yang merupakan peningkatan dari akidah dan akhlak yang telah dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar. Peningkatan tersebut dilakukan dengan cara mempelajari tentang rukun iman mulai dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, sampai iman kepada Qada dan Qadar yang dibuktikan dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta pemahaman dan penghayatan terhadap al-asma’ al-husna dengan menunjukkan ciri-ciri/tanda-tanda perilaku seseorang dalam realitas kehidupan individu dan sosial serta pengamalan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.

3)      Fikih Fikih adalah mata pelajaran yang memahami tentang pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikankan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara kaaffah (sempurna).

4)      Sejarah Kebudayaan Islam Sejarah Kebudayaan Islam adalah mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam di masa lampau, mulai dari perkembangan masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaurrasyidin, Bani ummayah, Abbasiyah, Ayyubiyah sampai perkembangan Islam di Indonesia.

  1.  Madrasah Aliyah.

1)      Al-Qur’an-Hadis Mata pelajaran Al-Quran Hadis di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari Al-Quran Hadis yang telah dipelajari oleh peserta didik di MTs/ SMP

2)      Akidah-Akhlak Mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari akidah dan akhlak yang telah dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Tsanawiyah/ SMP

3)       Fikih Mata pelajaran Fikih adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari fikih yang telah dipelajari oleh peserta didik di MTs/ SMP.

4)      Sejarah Kebudayaan Islam Sejarah Kebudayaan Islam mata pelajaran yang menelaah tentang sal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/ peradaban Islam di masa lampau, mulai dari dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah dan periode Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat, sampai perkembangan Islam periode klasik (zaman keemasan) pada tahun 650 M – 1250 M, abad pertengahan/ zaman kemunduran (1250 M – 1800 M), dan masa modern/ zaman kebangkitan (1800 – sekarang), serta perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.

  1.  Tujuan tiap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah

a. Madrasah Ibtidaiyah

1)      Al-Qur’an-Hadits:

a)      Memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan, dan menggemari membaca al-Qur’an dan Hadits;

b)       Memberikan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat al-Qur’an-Hadits melalui keteladanan dan pembiasaan;

c)       Membina dan membimbing perilaku peserta didik dengan berpedoman pada isi kandungan ayat al-Qur’an dan al-Hadits.

b. Akidah-Akhlak

1) Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang aqidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai aqidah Islam.

c) Fiqih

1) Mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.

2) Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya.

d) Sejarah Kebudayaan Islam

1) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah saw dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

 2) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan

3) Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

4) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat

 2. Madrasah Tsanawiyah.

 a) Al-Qur’an-Hadis

1) Meningkatkan kecintaan siswa terhadap al-Qur’an dan hadis.

2) Membekali siswa dengan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan.

3) Meningkatkan kekhusyukan siswa dalam beribadah terlebih salat, dengan menerapkan hukum bacaan tajwid serta isi kandungan surat/ayat dalam surat-surat pendek yang mereka baca.

b) Akidah-Akhlak

1) Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;

 2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.

c) Fiqih

1) mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah yang diatur dalam fikih ibadah dan hubungan manusia dengan sesama yang diatur dalam fikih muamalah.

2) Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dalam suatu negara bisa berkembang apabila pendidikan di dalam cukup baik, karana pendidikan merupakan salah satu faktor penentu, dalam negara-negara maju yang pertama kali mereka titik tekankan adalah bagaimana pendidikan itu berkembang, salah satu cara mereka mengembangkan kurikulum, karna pendidikan bisa berkembang apanbila kurikulumnya itu baik karena krikukulum  meliputi rencana, tujuan, isi, organisasi, strategi dalam pendidikan.

Madrasah merupakan suatu lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada pendidikan agama. Kurikulum PAI di Madrasah memiliki suatu hal yang lebih pokok yang memang diharapkan dan bukan hanya dalam target tujuan PAI tapi juga sebagai pendidikan yang lahir dari agama islam diharapkan dapat berkompetensi jasmani dan rohani, artinya berkompetensi dalam hal sikap, skill, pengetahuan secara afektif, kognitif, psikomotorik sesuai dengan ajaran agama islam dalam aspek jasmani. Dan dengan adanya kurikulum madrasah diharapkan menjadikan anak didik menjadi makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Allah serta senatiasa mau mengamalkan apa yang telah diajarkan di dalam madrasah

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang System Pendidikan Nasional Golden Terayon Press, Jakarta: Golden Terayon Press, 1994

Dr. Zakiah Daradjat, dkk, ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Jakarta, Bumi Aksara, 2008.

Pro. Dr. H. Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, M. Ag, Jakarta: Kencana, 2011,

Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, Bandung: Mizan, 1998.

Prof. Drs. H. Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta,2004.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI,  Pendidikan di Indonesia Dari Zamaan Kezaman: balai Pustaka, 1986

Prof. Dr. Suwito, Ma, Sejara Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada Media, 2005.

Dr. H Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembanganya, Jakarta: Logo wacana Ilmu, 1999

Martunus, A. Aziz, laporan Loka karya Pelaksanaan SKB 3 Menteri, Jakarta: Balit Bank Agama Depag RI, 1978/1979

Dr. Hasan Basri, M.Ag. Ilmu pendidikan Islam (Jilid II), Bandung: Pustaka Setia, 2010.

Prof. H. M. Arifin, M.Ad. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Depag RI. Sejarah Perkembangan Madrasah. Bagian Proyek Peningkatan Madrasah Aliah. 1999/2000.


[1] Prof. Drs. H. Dakir, PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM, Jakarta, PT RINEKA CIPTA,  2004. Hal 24

[2] Lihat pembukaan UUD 1945,

[3] Lihat UU No 20 tahun 2003 tentang UU sisdiknas BAB II pasal 3

[4] Pro. Dr. H. Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, M. Ag, Jakarta: Kencana, 2011, hal 293

[5] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, Bandung: Mizan, 1998, hal hal xI

[6] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, ILMU PENDIDIKAN ISLAM, Jakarta, Bumi Aksara, 2008. Hal 137

[7] Ibid. h. 138

[8] Ibid, h. 139

[9] Undang-Undang System Pendidikan Nasional (Jakarta: Golden Terayon Press, 1994)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Oktober 2012 in KURIKULUM

 

Halo dunia!

Selamat datang di WordPress.com! Ini adalah postingan pertama Anda. Klik Sunting untuk memodifikasi atau menghapusnya, atau tulis postingan baru. Kalau mau, gunakan postingan ini untuk menyampaikan kepada para pembaca mengapa Anda membuat blog ini dan apa rencana Anda selanjutnya.

Selamat ngeblog!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Agustus 2012 in Tak Berkategori

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.